Coba yang pake password yang iniaja

Mencoba untuk menggunakan fasilitas pasword pada postingan, terus nanti baru mikir penggunaan real-nya bagaimana.

ini memang mencoba untuk memasangkan fotonya sih.

Image hosted by Photobucket.com

Image hosted by Photobucket.com

Wajah publik, wajah privat, dan wajah hati

Dalam hidup ini kita tidak sendiri, ada jejaring orang-orang yang kita kenal dalam berbagai bentuknya. Tingkah laku kita akan selalu diukur dalam berbagai tolok ukur yang tidak selalu jelas, juga terkadang tidak kita ketahui. Ukuran atau norma itu pun interpretasinya bisa saja berbeda dari satu orang ke orang yang lain. Bahwa masyarakat terdiri atas individu-individu yang pada tingkat tertentu memiliki otonomi rasanya sulit dibantah, persoalannya adalah seberapa besar sebetulnya otonomi individual itu. Ini mungkin yang sering dibilang orang sebagai kebebasan. Untuk menambah komplikasi lagi, otonomi atau kebebasan itu diharapkan digunakan orang tidak hanya untuk kepentingan pribadinya, tetapi juga memperhatikan kepentingan orang lain dan masyarakat secara keseluruhan.

Sementara pada sisi lain struktut maupun dinamika kejiwaan seseorang pun rasanya belum dikenali dengan baik. Hal ini nampak dari masih adanya banyak teori kepribadian dalam psikologi dan psikiatri. Secara ilmiah belum tuntas penjelasan tentang dinamika kejiwaan dalam diri seorang manusia.

Aku jadi ingat dialog dalam suatu film: “Science is not more that best guess”, bahkan keseluruhan pengetahuan manusia sekarang diakui tidak merupakan suatu kepastian. Jadi rasanya norak deh istilah ilmu pasti. Karena ilmu pun mengakui keterbatasannya. Ilmu akan selalu berkembang dalam paradigma dan asumsi yang mendasarinya, dia dianggap pasti saat asumsi yang digunakan masih sahih untuk menjelaskan gejala atau premis yang diturunkan darinya. Sedangkan bila asumsi itu sendiri yang dipertanyakan, maka segalanya menjadi tidak pasti. Misalnya saja 2 + 2 semua akan menjawab dengan cepat 4; tetapi tanpa sadar itu berlaku untuk bilangan berbasis 10 (yang biasa kita pakai). Kalaupun kita lalu berargumen tetapi kenyataan bahwa 2 apel di tambah 2 apel menjadi 4 apel tidak akan berubah berapa pun penulisannya, kalau kita merubah basis. Memang begitu, tetapi itu karena kita memberi nama pada bilangan 2 dan 4 serta kita mendefinisikan 2 dan 4 seperti itu. Kalau kita tidak menggunakan matematika tentu tidak akan semudah itu lagi menjawabnya.

Yang aku mau bilang adalah ternyata ilmu terpenting saat ini adalah statistik, yang mengakui bahwa angka (informasi) tidaklah pasti tetapi ada tingkat ketidakpastian di dalamnya. Dalam istilah statistik bukan titik, tetapi ‘’range'’ .

Mungkin begitu pula masalah perwajahan yang menjadi judul ‘’posting'’ ini, bukan akurasi yang berupa titik tetapi bahwa pada skala tertentu antara ketiganya masih terlihat ada konsistensi tertentu. Walau dalam hal terpaksa, bisa terjadi antara ketiganya tidak terdapat korespondensi apa-apa. Alias, ada kebohongan di sana. Kebohongan sebagai upaya kita untuk menyenangkan orang-orang di sekitar kita, ataupun agar kita bisa di lihat sebagai orang “baik” oleh lingkungan kita.