Mengingat dia
Di antara keramaian aku selalu melihat dia berkelebat, rambut pendeknya, gaya berjalannya, profil mukanya. Untuk setiap sosok yang mendekati ketinggiannya aku melihat dirinya. Saat aku menutup mataku, aku masih terus bisa melihat dia. Aku rindu padanya.
Diantara kesunyian malam aku mendengar suaranya, berbicara dalam suara yang tidak bisa aku lupakan. Dengan ketusnya, kata dia, aku mendengar lantunan kebahagiaan. Semua suara yang mengingatkan aku padanya langsung membuat jantungku berdebar senang. Aku Rindu dia.
Dalam pengapnya kehidupan aku selalu mencium semerbak dirinya. Walau semua bau berganti tentang dia, aku selalu bisa mencium, membaui kehadirannya, dan itu menjadikan hatiku senang. Aku rindu dia.
Dalam kerasnya kehidupan aku meraba kehalusan yang tak nyata, terbayang aku menyentuhnya. Semua yang lembut dan indah mengantar khayalku pada dia. Aku rindu dia.
Dalam pahitnya kehidupan, tiap ku kecap rasa kenikmatan, kurasakan kebersamaan bersama dia. Manis dan renyah. Aku rindu dia.
Pada setiap inderaku, aku rindu dia.
Dalam jiwaku aku rindu kamu.
Dalam kalbuku aku rindu kamu.
Dalam sanubariku aku rindu kamu.
Sayang, aku rindu kamu.
