Mendengar suaranya
Pernah aku menertawakan mereka yang begitu romantisnya tersipu dan terbuai saat mendengar suara seseorang yang dicintainya, kini aku musti menertawakan diriku sendiri. Tadi aku menelpon dia, tidak ada yang penting tapi ada peluang untuk bisa berbicara tentu aku memanfaatkannya. Terdengar nada dering di HP, aku yakin kalau ada alat pengukur tensi di jantungku detaknya akan terlihat semakin cepat juga tekanannya semakin meninggi; itu adalah pertanda atau respon orang yang sedang dalam keadaan senang yang mudah disalah artikan sebagai orang yang sedang tegang. Rasa berdesir seakan angin bertiup sekujur tubuh. Segenap sensor tak sabar untuk mendengarkan tiap kata yang akan dia ucapkan, mencoba untuk menangkap tiap makna dan tiap arti serta gagasan dalam setiap bagian bunyi maupun kata. Memaknai tiap perubahan nada, meresapi tiap perubahan nuansa. Tiap benang saraf dalam tubuh ini seakan lapar untuk melahap tiap butir stimulus yang diberikannya.
Semua itu tidak berarti bahwa tiap pemahaman dan selanjutnya keputusan yang aku buat berdasarkan stimulus yang aku terima akan selalu benar. Tetapi mungkin permasalahannya adalah apa yang kita maksud dengan kebenaran. Apakah kita harus mengakui benar kala kita bisa selalu mendapatkan apa yang kita inginkan? Ataukah juga kebenaran itu saat kita mampu mengarahkan harapan dan ekspektasi kita sesuai dengan apa yang memang akan terjadi? Tetapi juga bisa kebenaran itu adalah kala kita bisa terus jujur pada apa yang dibisikan oleh hati kita dan menggema dalam kalbu. Begitu banyak sudah pelatihan ku tentang segala sesuatu yang nalar aku mengabaikan semua yang naluriah, pemahaman kehidupan dari kesadaran kolektif manusia telah melumpuhkan kemampuannku untuk menangkap dan mengalami segala yang berlangsung di luar kesadaran manusia. Kecilnya pemahamanku terlebih kemampuanku untuk olah batin berkait dengan keluhuran budi telah begitu melemah, sejalan dengan menguatnya nalar dalam rangkaian sebab akibat.
Dalam rangkaian sebab akibat aku kehilangan makna dalam peta yang lebih besar tentang makna dan arus besar keluhuran kemanusiaan. Betapa perlunya aku untuk mengenali sukma dan kalbu serta nurani dalam diri ini untuk bisa mengenali alam semesta dan kehidupan manusia di dalamnya.
Kala mendengar suaranya aku diingatkan kembali pada ketulusan rasa yang ada dalam hati ini kesediaan menerima segala apa yang akan terjadi dalam hubungan kami, mensyukuri semua yang terjadi sebagai garisan kehidupan. Tetapi juga tetap sepenuhnya sadar dan mengakui adanya hasrat dan niat serta keinginan untuk bisa dipersatukan walau dalam bentuk seperti apa. Bagi tiap manusia ada jalan dan garis yang harus dia tempuh, garisku adalah untuk selalu berhasrat pada dia. Bisakah ini seluruh kebenaran? Tidak seluruh kebenaran, tetapi bagian dari hasrat yang benar ada dalam hati ini adalah keinginanku untuk selalu dekat dengan dia. Dekat dalam angan kalau pun tidak dekat dalam kenyataan. Ini lah kenyataan nyata, rasionalisasi cinta yang buta. Dalam kebutaan, suara adalah komunikasi cinta yang utama.
