Kenapa?

Aku dan dia ……. kenapa?
Setelah begitu lama waktu berlalu tiada lain yang bisa menggantikannya, kenapa?
Ada rasa di luar nalar …. ada keyakinan di luar pengetahuan, hanya dia untuk ku.
Kala aku bersama dia rasanya tiada yang bisa salah, bahkan yang salah rasanya pasti segera berlalu.
Yang di luar sana dan di dalam sini;
menyatu atau tak pernah terpisahkan
kesatuan utuh jalan kehidupan
walau segala perbedaan
tak ada yang kuasa memisahkan.
Bahkan kenyataan bahwa aku dan dia tidak bersatu
di dalam hati ini
di dalam kalbu
hanya ada aku dan dia.

Ketika sunyi malam membiarkan aku mendengar suara kata hati
terdengar seru indahnya kebersamaan aku dan dia walau hanya dalam khayal,
di manakah batas nyata dan khayal?
ada kah beda nyata dan khayal
selain dari apa yang kita bayangkan, atau pun pada jarak yang kita buat sendiri.

Kalau harus kita berpisah atau tidak bersatu
dalam hati dalam kalbu
dalam angan dalam hasrat
tetap aku dan dia tidak lah dua, tetapi satu
dalam rasa, dalam hati ini

Semua kegilaan, semua yang tidak wajar
menanti saat semua sirna, beda nyata dan khayal
dalam keabadian, atau ketiadaan
tidak ada bedanya
karena hanya aku dan dia
yang berarti
kini dan selamanya

Perkenalan kami

Waktu itu aku menjadi salah seorang pengurus kumpulan remaja yang bergiat dalam bidang kesenian, dan kami mengadakan penerimaan anggota baru. Salah seorang calon anggota dalam berkas pendaftarannya menyertakan setumpuk sertifikat kursus tari yang bergambarkan kijang seterusnya jadilah dia dikenal sebagai kijang di antara teman-teman, yang ditambahkan dibelakang namanya. Kemampuan tarinya sangat baik, tapi anaknya keras kepala. Tentu saja dia termasuk yang di terima untuk bergabung, kalau tidak tidak ada cerita ini. Saat itu aku sudah kuliah dan dia masih SMA.

Keberaniannya untuk datang sendiri, walau rumahnya di bilangan Senen tidak dekat dengan tempat kegiatan kami di Kebayoran Baru juga menunjukan pada kerasnya kemuaan anak yang satu ini. Pada awalnya rambut dia panjang lebih dari bahunya, wajahnya menarik dengan kepolosan atau bahkan keluguan. Dengan sangat energik dia selalu mengikuti segala kegiatan. Aku tidak ingat lagi apa kalimat pertama yang aku ucapkan padanya memang, tapi kayanya saat itu sih memang ada rasa bahwa orang yang satu ini istimewa untukku. Peristiwa itu terjadi tahun 1977, sudah begitu lama.