Mencoba posting dengan Performancing

Sudah berhasil melakukannya di blogger dan wordpress … sekarang di sini. Kelihatannya canggih juga nih pakai Performancing. Memang belum mencoba bagaimana kalau kita mau menyelipkan gambar ke dalam postingan. Tetapi itu akan aku pelajari kemudian deh, sekarang yang paling dasar untuk membuat tulisan sekedarnya.

powered by performancing firefox

Mencoba Qumana

Posting ini di buat dengan Qumana LE yang untuk pertama kalinya aku coba nih. Ingin tahu saja bagaimana penggunaannya, dan juga tampilannya nanti. Ini menjadi pembanding dengan WBloggar.
 
Powered By Qumana

Cerita saja

Ini dituliskan seperti judul di atas sebagai cerita saja, atau mungkin lebih mirip “igauan”. Kan tidak enak kalau punya blog dan ditelantarkan untuk waktu yang lama, jadilah ini dituliskan tanpa terlebih dahulu terpikirkan apa yang akan dituliskan.

Setelah lama tidak menulis di sini aku agak lupa apa sebetulnya maksud atau rencana semula membuat blog ini, rasanya saat membuat blog ini periode mencoba segala macam fasilitas blog (yang gratisan) sudah lewat sehingga mustinya ada semacam tujuan tertentu untuk memulai menulis di sini. Memang yang teringat di sini aku mencoba blog berbasis WP (WordPress) dan mungkin ada keinginan untuk menjadikan ini tempat untuk menuangkan segala isi hati, yang bisa dituangkan di tempat yang terbuka dengan segala resikonya.

Yang pasti nama blog ini memiliki makna tersendiri untukku, *sensor*, yang bisa sesungguhnya menjadi petunjuk tentang niat membuat blog ini pada saat mulanya. Tetapi dalam perjalanannya makna yang begitu indah, begitu diharapkan, telah menjadi kesiasiaan, menjadi lambang ketidakberdayaan, titik kehancuran, dan semua yang buruk serta tidak diharapkan.

Jadilah blog ini suatu persembunyian, dengan harapan tidak ada yang akan pernah membacanya selain diriku. Biar blog ini menjadi tuangan perasaan yang tidak diketahui oleh orang lain, mencatat semua kepedihan dan kepengecutan diri ini dalam mengarungi lautan kehidupan. Layar yang terkembang telah patah diterpa badai, tinggal kain terkoyak yang berkibar membawa kapal entah kemana. Patah juga sudah kemudi tinggal terapung bergerak menurut arus, tanpa keinginan juga harapan. Adalah keajaiban tidak tenggelam ataupun karam, juga tidak perduli kalau semua berakhir seketika.

Biar banyak peluang terbuka biarkan semua berlalu kalau tidak mereka yang datang menghampiri, tak ada niat dan keinginan untuk berjuang merebut sesuatu. Terbalik, karam, tenggelam, semua boleh dan tidak perduli lagi. Sangat pesimis tapi tidak cukup berani untuk mengakhiri dengan sengaja, inilah puncak kepengecutan. Begitu hebat kekuasaan yang mengalahkan diri ini, telah menghilangkan semua harap dan asa. Bahkan tidak berani untuk berharap terjadi perubahan.

Keberanian yang tersisa adalah mengharapkan semoga penderitaan ini juga ada untuk semua yang terkait, sama sekali tidak sehat memang, tetapi begitulah adanya. Itulah keberanian yang tersisa.

Menulis lagi …

Memang telah banyak yang berubah. Keinginan untuk sering menuliskan segala sesuatu tentang isi hati kedalam blog ini adalah bagian dari perubahan itu karenanya sedikit terlupakan. Selagi sempat sekarang aku mencoba untuk menuangkan isi kepala, karena hari-hari ini tidak ada lagi isi hati. Mencoba untuk bercerita dengan jujur, sejauh bisa kita bercerita, karena lebih banyak yang tidak akan bisa aku ceritakan. Jadi kiriman ini adalah cerita yang tidak akan bercerita tentang segala yang terjadi dan sesungguhnya berlangsung dalam hati.

Semua harus terlihat indah dan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarkat, maka dengan penuh kesadaran jadilah aku robot yang menjalani hidup ini berbuat apa saja yang bisa diperbuat. Memang banyak yang sudah aku miliki dalam kehidupan ini, tidak mudah untuk menjadi tidak bermakna. Tetapi semua itu bagi aku sendiri tidak lagi bermakna, tidak ada bedanya kalaupun semua berjalan mulus dan indah.

Anehnya justru pada saat seperti ini berbagai kesempatan seakan terbuka dan aku tinggal memilih mana yang ingin aku jalani dengan serius, aku tidak memilih tapi menyandarkan pada apa saja yang terjadi terlebih dahulu atau karena alasan apa saja harus aku jalani. Tidak ada semangat untuk mengejar dan mencapai sesuatu, tidak ada keinginan ataupun hasrat. Semua yang terjadi terjadilah.

Mencoba Imageshack

Ini mau mencoba image shack
Free Image Hosting at www.ImageShack.us

Protected: Foto dia ….

This post is password protected. To view it please enter your password below:

Coba yang pake password yang iniaja

Mencoba untuk menggunakan fasilitas pasword pada postingan, terus nanti baru mikir penggunaan real-nya bagaimana.

ini memang mencoba untuk memasangkan fotonya sih.

Image hosted by Photobucket.com

Image hosted by Photobucket.com

Wajah publik, wajah privat, dan wajah hati

Dalam hidup ini kita tidak sendiri, ada jejaring orang-orang yang kita kenal dalam berbagai bentuknya. Tingkah laku kita akan selalu diukur dalam berbagai tolok ukur yang tidak selalu jelas, juga terkadang tidak kita ketahui. Ukuran atau norma itu pun interpretasinya bisa saja berbeda dari satu orang ke orang yang lain. Bahwa masyarakat terdiri atas individu-individu yang pada tingkat tertentu memiliki otonomi rasanya sulit dibantah, persoalannya adalah seberapa besar sebetulnya otonomi individual itu. Ini mungkin yang sering dibilang orang sebagai kebebasan. Untuk menambah komplikasi lagi, otonomi atau kebebasan itu diharapkan digunakan orang tidak hanya untuk kepentingan pribadinya, tetapi juga memperhatikan kepentingan orang lain dan masyarakat secara keseluruhan.

Sementara pada sisi lain struktut maupun dinamika kejiwaan seseorang pun rasanya belum dikenali dengan baik. Hal ini nampak dari masih adanya banyak teori kepribadian dalam psikologi dan psikiatri. Secara ilmiah belum tuntas penjelasan tentang dinamika kejiwaan dalam diri seorang manusia.

Aku jadi ingat dialog dalam suatu film: “Science is not more that best guess”, bahkan keseluruhan pengetahuan manusia sekarang diakui tidak merupakan suatu kepastian. Jadi rasanya norak deh istilah ilmu pasti. Karena ilmu pun mengakui keterbatasannya. Ilmu akan selalu berkembang dalam paradigma dan asumsi yang mendasarinya, dia dianggap pasti saat asumsi yang digunakan masih sahih untuk menjelaskan gejala atau premis yang diturunkan darinya. Sedangkan bila asumsi itu sendiri yang dipertanyakan, maka segalanya menjadi tidak pasti. Misalnya saja 2 + 2 semua akan menjawab dengan cepat 4; tetapi tanpa sadar itu berlaku untuk bilangan berbasis 10 (yang biasa kita pakai). Kalaupun kita lalu berargumen tetapi kenyataan bahwa 2 apel di tambah 2 apel menjadi 4 apel tidak akan berubah berapa pun penulisannya, kalau kita merubah basis. Memang begitu, tetapi itu karena kita memberi nama pada bilangan 2 dan 4 serta kita mendefinisikan 2 dan 4 seperti itu. Kalau kita tidak menggunakan matematika tentu tidak akan semudah itu lagi menjawabnya.

Yang aku mau bilang adalah ternyata ilmu terpenting saat ini adalah statistik, yang mengakui bahwa angka (informasi) tidaklah pasti tetapi ada tingkat ketidakpastian di dalamnya. Dalam istilah statistik bukan titik, tetapi ‘’range'’ .

Mungkin begitu pula masalah perwajahan yang menjadi judul ‘’posting'’ ini, bukan akurasi yang berupa titik tetapi bahwa pada skala tertentu antara ketiganya masih terlihat ada konsistensi tertentu. Walau dalam hal terpaksa, bisa terjadi antara ketiganya tidak terdapat korespondensi apa-apa. Alias, ada kebohongan di sana. Kebohongan sebagai upaya kita untuk menyenangkan orang-orang di sekitar kita, ataupun agar kita bisa di lihat sebagai orang “baik” oleh lingkungan kita.

Mengingat dia

Di antara keramaian aku selalu melihat dia berkelebat, rambut pendeknya, gaya berjalannya, profil mukanya. Untuk setiap sosok yang mendekati ketinggiannya aku melihat dirinya. Saat aku menutup mataku, aku masih terus bisa melihat dia. Aku rindu padanya.

Diantara kesunyian malam aku mendengar suaranya, berbicara dalam suara yang tidak bisa aku lupakan. Dengan ketusnya, kata dia, aku mendengar lantunan kebahagiaan. Semua suara yang mengingatkan aku padanya langsung membuat jantungku berdebar senang. Aku Rindu dia.

Dalam pengapnya kehidupan aku selalu mencium semerbak dirinya. Walau semua bau berganti tentang dia, aku selalu bisa mencium, membaui kehadirannya, dan itu menjadikan hatiku senang. Aku rindu dia.

Dalam kerasnya kehidupan aku meraba kehalusan yang tak nyata, terbayang aku menyentuhnya. Semua yang lembut dan indah mengantar khayalku pada dia. Aku rindu dia.

Dalam pahitnya kehidupan, tiap ku kecap rasa kenikmatan, kurasakan kebersamaan bersama dia. Manis dan renyah. Aku rindu dia.

Pada setiap inderaku, aku rindu dia.
Dalam jiwaku aku rindu kamu.
Dalam kalbuku aku rindu kamu.
Dalam sanubariku aku rindu kamu.

Sayang, aku rindu kamu.

About My Kids > Home

About My Kids > Home

Sayang anak, sayang anak (bahasa Inggris sih)